Ramai-Ramai Gugat China Soal Corona, Ini Kata Jubir China

Akibat pandemi Virus Covid-19 yang makin meluas tak terkendali dan berdampak luar biasa terhadap perekonomian dunia, sejumlah Organisasi dan Negara ramai-ramai mengajukan gugatan hukum kepada otoritas China tempat virus ini berasal.

Lantas, Negara dan organisasi apa yang mengajukan serangan gugatan covid-19 untuk china, dan berapa jumlah tuntutan ganti rugi yang harus di bayar china jika gugatan tersebut telah diputuskan? berikut ini adalah detailnya.

Amerika Serikat

Dimulai dari Negara dengan jumlah kasus dan angka kematian terbanyak akibat virus covid-19 yaitu Amerika Serikat, dimana rubuan warga Amerika Serikat di Negara bagian Florida telah menandatangani Class Action meminta kompensasi dan pertanggungjawaban dari China atas pandemi Covid-19.

Tercatat sudah lebih 5000 warga AS yang tergabung dalam gugatan ini, gugatan berisi ganti rugi milliaran dollar AS untuk mereka yang menderita kerugian dan kematian atas kegagalan China menghentikan penyebaran virus ini ditahap awal.

Kemudian gugatan Action Class juga diajukan pebisnis di Las Vegas yang meminta ganti rugi Milliaran Dollar AS, Gugatan ini mengklaim bahwa pemerintahan China telah menutup-nutupi pandemi Corona pada awal kemunculannya, sehingga virus corona menyebar keseluruh dunia. China telah dituduh telah mengintimidasi dokter, ilmuwan dan juga jurnalis untuk menekan informasi tentang covid-19 dan membiarkan virus ini menyebar dengan cepat.

Tidak cukup hanya disitu, gugatan lain juga di ajukan oleh Freedoom Watch, yang merupakan organisasi di Washington DC dengan tututan sebesar 20 Triliun Dollar AS, atas tuduhan, China telah menciptakan Corona Virus sebagai senjata biologis.

Selain itu, gugatan di AS bukan hanya ditunjukan kepada China, tetapi juga kepada organisasi kesehatan dunia atau WHO yang turut digugat dalam Class Action di New York. WHO telah dituduh melakukan kelalaian besar dalam menanggapi pandemi virus corona, diantaranya ialah, Gagal mengumumkan pandemi secara tepat waktu dan gagal memantau respon China terhadap wabah ini.

Israel

Di Israel, gugatan terhadap China dilayangkan oleh LSM Shurat Hadin, alasannya hampir sama seperti gugatan AS yaitu China telah lalai dalam membendung wabah dari Covid-19, dilansir dari Newsweek, setelah diajukan gugatan dari israel ini akan bergabung dengan setidaknya 4 tuntutan hukum dipengadilan AS terhadap China. Dan jika gugatan telah diputuskan, maka China wajib membayar sebesar 6 Triliun Dollar AS atau setara dengan Rp. 90.000 Triliun.

Inggris

Lembaga Henry Jackson Society di Inggris, rencananya akan mengajukan tuntutan ke PBB dan Mahkamah Internasional atas tuduhan China telah dianggap menutup-nutupi informasi buruk terkait wabah ini pada awal kemunculannya, Lembaga ini juga menilai bahwa kemungkinan China harus membayar sebesar EUR 350 Milyar atau setara Rp. 70.000 Triliun.

Mesir

Seorang Pengacara Mesir bernama Mohamed Talaat mengajukan tuntutan sebesar USD 10 Triliun kepada presiden China Xi Jinping akibat pandemi ini. Talaat menuduh China telah menghasilkan Virus Covid-19 sebagai senjata Biologis. Talaat juga mendesak Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi agar segera menangani kasus ini dan membentuk komite pakar hukum internasional.

India

India juga tak turut ketinggalan untuk menyeret China ke pengadilan internasional, India meminta kompensasi dari China melalui aduan ke Dewan Hak Asasi Maanusia PBB. Meski tidak menyebutkan secara pasti berapa angka kompensasi yang diminta oleh India, namun lebaga dari Acuite Ratings & Research LTD memperkirakan bahwa India dapat kehilangan sejumlah USD 98 Milyar akibat dampak Lockdown.

Jerman

Melalui surat kabar, Negara ini telah mengajukan tagihan sebesar EUR 130 Milyar atau setara Rp. 2191Triliun atas kerugian Negara ini akibat dampak Covid-19

Menghadapi berbagai gugatan tersebut, Jurubicara kementrian luar negeri China, Geng Shuang mengatakan “Komunitas internasional harus bersatu untuk memenangkan perang melawan virus corona. Kami berharap orang-orang di AS menghargai fakta, sains dan konsensus internasional. Mereka harus berhenti menyerang dan menyalahkan China, Membuat pernyataan tidak bertanggung jawab, dan lebih fokus pada situasi domestik dan kerjasama internasional”.

Dari tanggapan Jurubicara kementrian luar negeri China, seolah merayu AS bahwa China bukan musuh mereka, Geng Shuang berharap masyarakat AS berhenti menyerang dan menyalahkan China. Bahkan Geng Shuang juga sempat menyerang balik dan mengingatkan AS bahwa China tidak pernah meminta ganti rugi kepada AS atas penyebaran virus H1N1 atau Flu Babi pada 2009 lalu yang menyebabkan ada 200.000 orang meninggal dunia.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga