Jasa Epoxy Lantai

Mengantisipasi Konflik Budaya di Indonesia dengan Memahami Akulturasi

0

Perkembangan budaya bersifat evolutif. Kemunculan budaya dalam pranata sosial terjalin dan tercipta secara gradual. Tidak langsung sebuah masyarakat kebudayaan itu langsung tercipta.

Bagaimana Proses Akulturasi Budaya Bisa Terjalin Selaras?

Ada banyak clan dan suku di berbagai belahan dunia. Setiap clan dan suku mempunyai sistem dan ritus masing-masing. Antara clan satu dengan clan lain terdapat garis demarkasi yang membuat muncul banyak perbedaan, banyak pertentangan, hingga konflik yang tak jarang menghasilkan berbagai kekerasan komunal.

Hanya saja perbedaan-perbedaan corak kebudayaan antar clan tidak selamanya membuat perpecahan, selama masih ada upaya untuk mewujudkan masyarakat plural. Untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang menghargai antara budaya yang satu dengan budaya yang lain, ada beberapa upaya sistemik yang perlu kita lakukan. Berikut beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk menciptakan masyarakat plural.

Menerima Sepenuhnya Gagasan Pluralisme

Plurasisme menjadi sesuatu yang bersifat hukum alam, bahwa setiap manusia mempunyai ekspresi sendiri, mempunyai ekspresi kebudayaan yang berbeda-beda. Tidak ada singularitas yang bisa membuat kehidupan lebih harmonis. Adanya pemahaman yang semacam ini harus dipahami oleh segenap masyarakat.

Aktif Mengadakan Dialog Kebudayaan

Awal mula konflik yang terjadi di Ambon disebabkan karena gagalnnya proses dialog yang cair antara pihak-pihak yang bertentangan. Kegagalan dialoge dipicu tidak adanya afirmasi positif antara pihak-pihak yang berkonflik.

Oleh karenanya, sangat dibutuhkan ruang dialog yang cukup. Adanya ruang dialog yang cukup inilah yang membuat proses rekonsiliasi kedua belah pihak bisa berjalan tanpa terkendala.

Mendukung LSM yang Memperjuangkan Pluralisme

Masih ada banyak PR yang perlu kita benahi terkait dengan peran LSM berideologi moderat yang dirasa masih sangat kurang. Selama ini hanya ada beberapa LSM moderat yang ada di Indonesia.

Jumlah LSM moderat itu sangat sedikit. Beberapa LSM moderat yang ada di Indonesia salah satunya ada Utan Kayu, Nusantara Institut, dan Elsa Semarang. Diluar LSM itu, hampir tidak banyak ditemukan corak LSM yang beridiologi moderat. Padahal pengembangan LSM yang moderat mampu menjawab persoalan benturan benturan kebudayaan yang sering dialami oleh Indonesia.

Baca Juga : 5 Fakta Unik Tentang Pemilihan Presiden Tahun 2019

Aktif Mengadakan Mediasi

Konflik kebudayaan yang muncul di tengah masyarakat biasanya disebabkan karena pihak-pihak yang berkonflik tidak dipertemukan satu sama lainnya. Akibat tidak dipertemukan inilah kemudian muncul kecurigaan-kecurigaan antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Timbulnya kecurigaan ini membawa konflik yang tidak berujung. Untuk mengantisipasi hal tersebut sangat disarankan sekali supaya pihak-pihak yang berkonflik saling aktif mengadakan rekonsiliasi. Dengan begitu konflik-konflik kebudayaan bisa dikurangi.

Aktif Mengadakan Rekonsiliasi Antara Pihak-Pihak yang Bertikai

Proses rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai sangat wajib untuk dilakukan. Proses rekonsiliasi ini dilakukan agar dendam-dendam masa lalu antara pihak-pihak yang berkonflik bisa dihilangkan. Sehingga dendam-dendam yang pernah ada bisa dihapuskan di masing-masing kedua pihak.

Membuat Perjanjian Untuk Tidak Berkonflik

Setelah dilakukan beberapa langkah preventif untuk menghindari konflik. Perlu dibuat upaya perjanjian-perjanjian dan kesepakatan agar kedua belah pihak tidak bertikai kembali.

Untuk mengantisipasi hal itu, dibuatlah piagam dan kesepakatan dalam bentuk perjanjian untuk tidak bertikai. Dengan adanya perjanjian itu, pihak-pihak yang bertikai tidak ada niatan lagi untuk berkonflik kembali.

Nah itulah beberapa langkah-langkah komprehensif untuk menghindari konflik kebudayaan. Cara itu bisa ditempuh dengan pendekatan preventif dan persuasif.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.