Inilah 5 Kesalahan Yang di Anggap Tabu Bagi Pebisnis Wanita

0

Menjadi pebisnis biasanya identik dilakukan oleh seorang laki-laki. Jarang sekali ada pebisnis yang berasal dari kalangan wanita. Wanita sepertinya terperangkap diantara dua dunia, feminitas dan maskulinitas.

Karena itu, orang tua tidak bosan-bosanya (kalau tidak bisa dibilang cerewet) mendidik perempuan untuk pandai-pandai menempatkan diri. Di luar rumah, perempuan boleh jadi pemimpin, tetapi di dalam keluarga menjadi pengikut.

Adanya pandangan seperti itu kemudian yang membuat perempuan menjadi peragu, mereka berpikir bisa terjun di dunia bisnis atau tidak. Ragu-ragu ini terus bergejolak dalam hati.

Alhasil, kegiatan bisnis bagi wanita sering dipersepsikan sebagai dunianya kaum adam saja. Sampai saat ini banyak kaum wanita yang tidak PD-an dalam memulai bisnis.

Situasi yang dilematis ini menurut saya sesungguhnya tidak masuk akal. Seorang perempuan tetaplah perempuan, tidak peduli apakah dia seorang kepala negara atau penghasilannya 100 kali lipat lebih tinggi daripada suaminya.

Namun kenyataanya, begitu banyak sekali persepsi yang kurang tepat mengenai wanita. Berikut beberapa persepsi yang salah tentang bisnis yang dijalankan oleh perempuan.

Bisnis Itu Berisiko

Benar, kegiatan berbisnis itu banyak sekali risiko yang akan didapatkan. Tapi tidak benar jika bisnis selalu berujung pada risiko-risiko terus-menerus. Kegiatan berbisnis dalam dunia wanita memang risikonya lebih besar daripada dunia bisnis yang dijalankan oleh laki-laki.

Hal ini lantaran bisnis yang dijalankan wanita lebih limit waktu luangnya. Kita tahu bahwa perempuan mempunyai tugas utama mengelola rumah. Di rumah, wanita harus memasak, mencuci baju, mencuci piring, membersihkan kamar, dan segala aktivitas kerumah tanggaan lain yang amat super padat.

Kondisi seperti ini tentu saja membuat wanita tidak bisa leluasa. Risiko bisnis yang dihadapi pun jauh menjadi lebih besar. Tapi kendati demikian risiko bisnis sebetulnya bisa ditekan. Asalkan manajemen dalam berbisnis benar-benar diterapkan dengan ketat.

Merusak Keharmonisan Rumah Tangga

Banyak yang bilang ketika wanita terjun di dunia bisnis itu akan berefek retaknya hubungan rumah tangga. Padahal kenyataanya, wanita yang terjun di dunia bisnis sebagian ada yang kehidupan rumah tangganya mulus-mulus saja.

Coba Anda bayangkan, saat suami Anda tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan susu anak karena suami sedang jatuh sakit. Maka dengan penghasilan Anda yang didapat dari aktivitas berbisnis itu bisa membantu pemenuhan kebutuhan susu anak.

Jika istri tak berbisnis sementara Anda tidak bekerja karena sakit, tentu akibatnya bisa lain. Anda akan kesulitan mencari pemasukan hingga Anda frustasi sendiri. Jika kondisi frustasi ini dibiarkan saja dan Anda tak cepat-cepat mencari solusinya. Maka akibat yang ditimbulakan tentu saja bisa membuat  hubungan rumah tangga Anda mengalami cerai berai.

Tidak Bisa Mengatur Waktu

Ini anggapan yang salah. Berbisnis berbeda dengan bekerja pada orang lain (pegawai).  Wanita yang berbisnis berarti memiliki bisnis tersebut. Ia justru bebas mengatur waktunya. Hal ini tentu berbeda manakala seorang wanita bekerja pada orang lain. Ia tidak bebas mengatur waktunya. Semakin bagus sistem sebuah usaha, semakin sedikit pula waktu yang diperlukan pemilik untuk mengelolanya. Inilah fakta yang tidak bisa dibantah.

Pertanyaan sederhana mungkin muncul dalam benak ibu, bagaimana membagi waktu untuk berbisnis jika setiap hari sudah repot mengurus rumah tangga. Jawabannya ada pada kemampuan managerial. Jika mau, tentu saja pasti bisa.

Dengan mengelola usaha di rumah, seorang perempuan mempunyai waktu selama 24 jam bersama keluarga. Meski demikian, ibu dituntut pintar membagi waktu. Misalnya prioritaskan dulu mengurus keluarga saat pagi hari.

Baru setelah itu, jalankanlah bisnis Anda. Lakukanlah semua aktivitas bisnis seperti kerja di kantor. Bedanya Anda punya waktu yang lebih fleksibel. Cintai bisnis seperti ibu mencintai keluarga.

Bulatkan tekad bahwa tujuan atau mimpi utama untuk berbisnis adalah kebahagiaan keluarga. Dengan begitu, ibu bisa melakukan aktivitas bisnis seiring dengan kehidupan rumah tangga.

Banyak Pengaruh Negatif

Anggapan bahwa bisnis bagi perempuan itu banyak pengaruh negatif yang bisa timbul ini pandangan yang mengada-ngada. Berbisnis mengembangkan kreativitas. Berbisnis justru akan mengurangi pengaruh negatif bagi wanita.

Tahukah kalian apa yang biasanya dilakukan wanita pada waktu senggang ? Ya, sebagian besar justru dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna, seperti mengobrol, menonton televisi, menghabiskan waktu di mall, kadang lebih parah bergosip dengan tetangga.

Sekali lagi, bisnis bisa dilakukan oleh wanita dari rumahnya. Dampak negatif dari luar yang biasanya dikhawatirkan para suami, 100% tidak akan didapatkan. Malah, bagi para suami pencemburu, mereka akan senang jika istrinya di rumah dan sekaligus bisa berbisnis.

Harus Punya Keahlian

Memang banyak yang berasumsi seorang pebisnis itu harus mempunyai keahlian tertentu. Mereka yang mempunyai usaha butik kerap dianggap pintar menjahit dan mendesain baju. Begitu pula jika usaha catering. Pastilah pemiliknya ditebak pinter memasak.

Pendapat itu memang tak sepenuhnya salah, sekaligus tak sepenuhnya benar. Banyak usaha yang sukses dengan pemilik yang tidak punya keahlian dalam usaha tersebut. Ya, seorang pengusaha tak perlu jadi buruh untuk mengelola usaha tersebut. Ia cukup merekrut tenaga ahli yang memang kompeten di bidangnya.

Ada salah satu contoh perempuan yang tidak punya keahlian apa-apa tapi ia berhasil dalam berbisnis. Namanya ibu Sri. Ia merasa dirinya tidak punya keahlian apa-apa. Keahlianya cuma satu, ia pintar berhemat.

Bahkan, ia mengaku tidak bisa memakai ATM, ber-SMS, dan tidak mampu mengoperasikan komputer. Suatu ketika, ia iseng membeli dolar AS. Ternyata, suatu saat harga dolar naik dan ia mendapatkan untung.

Dari situ, ditambah tabungan pribadinya, ia membuka usaha yang cukup menguntungkan, yaitu bisnis sewa kontrakan. Sebidang tanah seluas 120 meter disulap menjadi 4 rumah petak. Setiap rumah petak dikontrakan dengan harga 500 ribu per bulan. Berati, penghasilan usaha sewa kontrakan itu mencapai 2 juta per bulan.

Penghasilan ini jauh lebih besar ketimbang bunga deposito. Bahkan, ia juga berhasil membuat rumah petakan baru untuk dikontrakan lagi. Bisnis kontrakan memang tidak perlu keahlian khusus. Yang dibutuhkan hanya kecerdasan finansial untuk mengelola modal.

Dari cerita di atas, kita memperoleh gambaran bahwa keahlian tak menjamin kesuksesan sebuah bisnis. Jadi, tak perlu khawatir untuk memulai bisnis, meskipun tidak punya keahlian dalam bisnis itu. Yang saat ini diperlukan adalah kreativitas dan cerdik dalam melihat peluang usaha.

Pun tak kalah penting adalah bermimpi. Semua yang kita nikmati sekarang ini berasal dari mimpi yang dianggap tak mungkin. Dulu, Sosrodjojo ditertawakan karena bermimpi menjual teh dalam kemasan botol atau Tirto Utomo karena idenya menjual air minum dalam kemasan. Namun, siapa kini yang tak tahu tentang dua hal tersebut ?

Setelah punya mimpi dan ide yang baik, beranikan diri untuk mencoba melakukannya. Berani adalah modal seorang entrepeneur” ungkap Bob Sadino. Jadi bagi Anda yang saat ini ingin memulai bisnis tapi masih ragu, coba yakinkanlah diri Anda sendiri. Keberhasilan dalam berbisnis pada orang-orang yang yakin pasti akan datang.

Leave A Reply