Strategi Meningkatkan Penjualan Produk dengan Belajar dari Kesalahan

0

Berbisnis tidak selamanya mendatangkan keuntungan. Bisnis pun kadang kala bisa gagal tak karu-karuan. Gagalnya bisnis banyak penyebabnya, bisa karena buruknya manajemen di bagian hilir maupun di bagian hulu.

Ibarat penyakit kutil yang menyembul kecil. Kutil ini harus cepat-cepat disembuhkan jika tak mau kutil berubah menjadi membesar. Begitu pun juga dengan kegiatan berbisnis, kesalahan-kesalahan kecil dalam kegiatan bisnis harus cepat-cepat dicari solusinya.

Kita tahu ada banyak perusahaan-perusahaan besar di luar sana yang kemudian bangkrut tak tersisa karena gagal memperbaiki kesalahan-kesalahan kecilnya. Salah satu perusahaan yang tak bisa mengantisipasi kesalahan kecilnya salah satunya Blackberry.

Kita tahu pada sekitar tahun 2006-2010 Blackberry begitu amat diminati oleh pasar dunia. Kala itu produk andalanya BBM Mesengger bahkan diaktivasi oleh penggunanya mencapi miliaran lebih. Kepopuleran BBM Mesengger kemudian  menyingkirkan pesan instan populer kala itu Friendster.

Namun dominasi Blackbery tidak bisa bertahan lama. Blackbery menggali kuburnya sendiri setelah melepas aplikasi BBM mesengger secara open source. Alhasil aplikasi BBM Mesengger yang tadinya hanya eklusif di Blackberry saja, saat itu merambah ke operating sistem lainya. Itulah awal kegagalan Blackberry, kesalahan melepas aplikasi BBM untuk publik menjadikan alasan mengapa perusahaan ini mengalami kebangkrutan.

Perusahaan Juga Butuh Ekslusifitas

Berkaca dari penyebab kebangkrutan Blackberry, kita tiba pada satu kesimpulan bahwa sebuah perusahaan butuh ekslusifitas. Eklusifitas ini nilai keistimewaan sebuah produk yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain.

Misalnya sebuah perusahaan A memiliki usaha produksi di bidang pembuatan kosmetik. Tapi sayangnya perusahaan A memiliki beberapa kelemahan dari setiap produknya. Kelemahanya yaitu produk kosmetik yang dibuat oleh perusahaan A tidak memiliki kandungan anti ageging ( anti penuaan). Jika Anda ingin membuat perusahaan kosmetik mengikuti jejak perusahaan A, Anda tentu saja harus memiliki nilai tambah daripada persuahaan A. Misalnya saja Anda menambahkan kandungan anti aging pada kosmetik produksi perusahaan Anda.

Dengan begitu, perusahaan Anda berarti sudah memiliki nilai ekslusifitas jika dibandingkan dengan perusahaan lain. Nilai eklusifitas ini harus Anda jaga agar tidak dimiliki oleh perusahaan lain. Misalnya dengan cara mengajukan paten atas penemuan teknologi Anda. Dengan begitu, jika ada perusahaan yang menjiplak teknologi Anda tanpa ada kesepakatan di awal bisa dipidanakan.

Kesalahan Membaca Pasar

Kesalahan dalam membaca pasar bisa menjadi kuburan bagi perusahaan Anda. Salah satu perusahaan yang bangkrut dalam membaca kebutuhan pasar yaitu Nokia.

Kita tahu bahwa pada tahun 1990 sampai tahun 2010 Nokia begitu mendominasi. Produk Nokia berhasil dikapalkan mencapai ratusan juta unit pada masa itu. Tak tanggung-tanggung, bahkan salah satu dari produk Nokia, Nokia 3310 dijuluki sebagai ponsel sejuta umat karena dimiliki oleh banyak orang di seluruh dunia.

Tapi lihatlah ponsel Nokia di era sekarang. Pasarnya sudah tak besar lagi seperti dulu, jangankan melawan raksasa asal Korea Selatan, Samsung, melawan ponsel Tiongkok saja masih ngos-ngosan.

Kekalahan Nokia di pasar mobile smartphone sejatinya karena kegagalanya dalam membaca pasar. Nokia kala itu terlalu pede dengan sistem operasi Symbian-nya.

Nokia terlalu memaksakan kehendak Symbian masih bisa diandalkan untuk sistem operasi pada smartphone-nya. Padahal kenyataanya, para pengguna Nokia sudah banyak yang merasa bosan dengan ponsel Nokia yang bersistem operasi Symbian itu. Para pengguna Nokia ingin sistem operasi yang lebih canggih, yang mampu melakukan multi tasking aplikasi dengan lebih lancar.

Melihat adanya celah kekurangan pada Smartphone Symbian, Android kemudian mencoba masuk dengan menawarkan banyak kelebihan dibandingkan dengan sistem operasi Symbian. Namun sayang, lagi-lagi Nokia gagal membaca pasar. Bukanya Nokia mengadopsi Android yang sangat dibutuhkan pasar, Nokia malah kekeh mengadopsi Symbian yang sudah tak dibutuhkan pasar itu. Ya akhrinya gagal deh Nokia.

Kegagalan Nokia dalam membaca pasar menjadi pelajaran bagi kita semua. Bahwa kita harus betul-betul pandai dalam membaca pasar. Pede mengusung ciri khas sendiri memang perlu, tapi tidak selamanya mempertahankan ciri khas pada sebuah perusahaan itu harus terus-terus tetap dilakukan.

Ada kalanya sebuah perusahaan meninggalakan identitas ciri khasnya demi mengikuti tren pasar yang sedang berkembang. Ikut-ikutan tidak selamanya jelek, ikut-ikutan tren malah kadang bisa membuat perusahaan menjadi besar.

Misalnya saja pada produsen Iphone, kita tahu bahwa Iphone selalu membawa inovasi sendiri pada setiap produknya. Misalnya saja Iphone menjadi produsen pertama kali yang menghadirkan teknologi layar sentuh pada produk-produknya.

Tapi kendati begitu, Iphone juga tidak serta-merta saja menciptakan teknologi sendiri. Iphone kadang juga mengikuti tren lain.

Salah satunya pada teknologi layar notch atau layar berponi. Teknologi layar berponi ini mengadopsi teknologi LG. Kendati Iphone meniru teknologi dari LG, teknologi layar notch ternyata lebih populer di Iphone.

Apa yang dilakukan Iphone kemudian menjadi pembelajaran bagi perusahan lain. Banyak perusahaan yang mengikuti jejak Iphone dalam menghadrikan layar notch. Kehadiran layar notch tentu saja menjadi pertanda bahwa sebuah perusahaan tidak harus menciptakan inovasi sendiri. Sebuah perusahaan bisa mengikuti tren yang sudah ada.

Memperkuat Jaringan Distributor

Sehebat apapun perusahaan dalam menghasilkan produk berkualitas, perusahaan tersebut tidak akan mendapatkan laba yang makasimal jika arus pendistribusian barang tidak maksimal. Nah, supaya distribusi produk Anda di pasaran bisa meluas.

Anda perlu menggaet distributor rekaan. Distributor rekaaan ini adalah pihak ketiga yang akan memasarkan produk Anda. Biasanya, sistem pemasaran menggunakan pihak ketiga menggunakan sistem bagi hasil. Salah satu perusahaan yang paling bagus dalam menggaet distributor adalah perusahaan Pepsi. Bahkan perusahaan Pepsi menjadi perusahaan pertama nomor satu yang berhasil menjadi perusahaan dengan jumlah distributor terbanyak di seluruh dunia.

Bagi Anda yang saat ini merasa penjualan produknya sangat sedikit sekali terjualnya. Anda perlu menggaet distributor baru yang lebih potensial. Distributor ini akan membantu penjualan produk Anda menjadi lebih banyak lagi.

Hanya saja, Anda perlu mencari distribtor yang kompeten dalam memasarkan produk Anda. Distributor yang kurang kompeten akan membuat nilai tambah produk Anda tidak tersampaikan dengan baik.

Meningkatkan Purna Jual

Salah satu pertimbangan utama konsumen dalam membeli produk yaitu tersedianya purna jual atau tidak. Jika purna jualnya bagus, maka peluang produk tersebut diminati oleh banyak konsumen akan semakin bagus pula. Jadi bagi Anda yang saat ini mengalami kendala penjualan produk kurang bagus, maka Anda harus merencanakan peningkatan distributor menjadi lebih banyak.

Selain itu, penempatan service center juga harus memerhatikan distribusi konsumen. Anda harus menempatakan service center ke tempat-tempat di mana produk Anda banyak dibeli oleh seseorang.

Agar orang-orang mudah menjangkaunya. Lokasi servis center harus ditempatkan di tempat-tempat dengan akses jalanan yang lebar. Pusat kota, dan di lingkungan countryside bisa menjadi peluang produk Anda bisa semakin dikenal di banyak tempat.

Begitulah beberapa cara meningkatkan volume penjualan pada sebuah produk. Cara-cara ini perlu Anda coba untuk meningkatkan laba perusahaan Anda. Jangan sampai perusahaan Anda bangkrut hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disadari.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.