Ini Tips Jitu Agar Daganganmu Tidak Dipalaki Preman

0

Enam bulan yang lalu, saat pulang dari Perpustakaan Surakarta aku mampir di warung mas Karjo yang tak jauh dari Terminal Tirtonadi. Kalau saya lihat ni ya, warung ini tu sederhana banget Bo tempatnya.

Tidak mewah seperti warung-warung makan yang biasa saya temui di tengah Kota Pemalang. Kendati warung ini kalau dibilang anak “jaman now” tidak instagramgenik, karena gak keren buat “selpa-selpi” kayak model dadakan, digoreng lima ratusan. Tapi bicara soal cita rasanya luar biasa sangat maknyos.

Aku aja yang waktu itu pesan soto tengkleng bisa sampai habis dua piring. Karena saking enaknya. Saya pun bertanya-tanya kepada mas Karjo tentang resep apa saja yang ada dalam soto tengkleng ini.



Tanpa ada rasa canggung, mas Karjo membeberkan resep rahasia itu kepada saya tanpa babibu. Obrolan resep rahasia itu kemudian mulai melebar ke suka-duka jualan aneka soto tengkleng di pinggiran terminal Surakarta. Ketika mas Karjo mulai bercerita suka dukanya jualan.

Saya dengarnya kok jadi ikutan sedih ya. “Saya mah kadang cuma bisa melayani soto tengkleng 5 mangkok aja mas, itu pun kadang kala ada preman sekitaran terminal yang suka malak dagangan saya.” Begitulah kata mas Karjo.

Mendengar keluhan mas Karjo yang dagangannya suka dipalaki oleh preman. Naluri “kebahasaan saya” langsung muncul. Berbekal teori dari Roland Barther dan Ferdinand de Saussure yang berbicara ilmu semiotika (sistem tanda) tiba-tiba saya jadi terinspirasi.

Saya kemudian menyarankan agar mas Karjo menempelkan bener bergambar polisi yang berfoto bersama dirinya untuk dipasangkan di dinding warung. Saya juga menyarankan penggantian nama warung “mas Karjo” di revisi menjadi warung “mas Karjo 86”. Mendengar saran itu mas Karjo kebingungan, lalu bertanya ke saya.



“Lho mas, kenapa nama warungnya di tambahi 86, dan kenapa pula saya harus menempelkan foto yang bergambar polisi di warung saya.” Sambil menyeruput kopi, saya kemudian menjawab pertanyaan dari mas Karjo dengan mantap”.

“Gini mas, preman terminal itukan biasanya takut sama polisi. Nah pemasangan gambar anggota polisi yang di sampingnya ada sampeyan ini tujuannya biar preman itu memersepsikan (signifie) bahwa sampeyan ini punya saudara polisi, punya anak polisi, atau minimal mereka menganggap sampeyan itu punya kenalan polisi yang dipersepsikan dari gambar itu (significantion) benar bergambar polisi ini merupakan pembentukan semiotik agar para preman bisa mereduksi kriminalitasnya.

Sementara penambahan nama 86 pada warung sampeyan ini untuk memperkuat pembentukan semiotik tersebut, supaya warung sampeyan dianggap ada sangkut pautnya dengan polisi.” .Mendengar penjelasan itu, mas Karjo manggut-manggut, dan keesokan harinya langsung menuruti saran saya.



Dipasanglah bener bergambar mas Karjo yang sedang foto bareng polisi di pagar warungnya. Tak lupa pula nama warungnya kini pun berubah menjadi warung Mas Karjo 86. Sebulan, dua bulan, hingga enam bulan berlalu sejak pemasangan baner bergambar polisi, dan nama warung yang telah ditambahi kata “86”. Hasilnya tidak ada satu pun preman lagi yang berani memalak dagangannya mas Karjo seperti dulu. Saya yang mendengar kabar itu melalui sms saat sedang makan gorengan kemudian senangnya bukan main.

Keberhasilan mas Karjo dalam mengusir preman yang biasa memalak dagangannya hanya dengan modal pemasangan baner bergambar polisi inilah mendadakan bahwa seseorang bisa sangat takut dengan simbol-simbol saja, bahkan preman sekalipun. Kalian mau coba cara ini agar dagangan kalian tidak dipalak oleh preman ? Ayo silahkan bisa dicoba.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.