IPNU Representasi Islam Berkemajuan dan Berkebudayaan

0

Bagaikan satu tarikan nafas IPPNU telah menjelma menjadi organisasi berbasiskan keilmuwan Islam (Islamic Studies) yang mampu mengubah peradaban Islam di Tanah Nusantara menjadi sangat maju, dan berkeadaban tinggi.

Sejak terbentuknya organisasi ini pada dasawarsa tahun 1939 dengan namanya ketika itu PERSENO (Persatoean Nahdlatoel Oelama), hingga kemudian mengalami transformasi kelembagaan pada tahun 1954 menjadi IPNU. Satu hal yang tak pernah lepas dalam gerak langkah IPNU dari zaman ke zaman.

Yaitu berupaya melahirkan kader pelajar yang agamis namun juga akademis dalam mewarnai bangsa yang ber Bhineka dengan taman sari kebudayaan yang warna-warni.

Karena para anggotanya tidak hanya dituntut pintar terhadap berbagai diskursus agama Islam, namun juga harus pintar dengan ilmu-ilmu sosial serta ilmu-ilmu alam. Inilah mengapa hasil didikan dari kader IPPNU sangat berperan besar terhadap kemajuan bangsa.



Para kaum terpelajar yang tergabung dalam IPNU adalah para pemuda yang paham betul, bahwa untuk membumikan Islam yang rahmatan lil alamin hanya bisa dilakukan dengan cara dakwah yang damai, bukan dengan cara-cara mengkafirkan-sesatkan kepada sesama umat agama yang sama-sama menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa.

Karena tindakan takfirisme hanya karena perbedaan soal khilafiah. Misalnya mempersoalkan masalah qunut dan tidak qunut yang tidak substansial.  Hanya akan membuat disintegrasi bangsa.

Jika dibiarkan berlarut-larut, tentunya akan merusak tatanan Kebhinekaan yang sudah lama terjalin ratusan tahun. Dalam kerangka yang demikian, IPNU adalah organisasi kepemudaan dan kaum pelajar yang mewadahi supaya anggotanya berfikiran moderat, dan agen perdamaian bagi kemaslahatan umat manusia, dari potensi konflik keagamaan.

Bukan kader IPNU namanya jika masih saja terdapat kebencian memusuhi masyarakat Muhammadiyah yang memilih tidak sholawatan misalnya. Maupun membenci orang Kristen yang mengimani Yesus Kristus. Karena kebencian itu hanya akan melahirkan konflik sektarian yang pada akhirnya akan meletuskan konflik keagamaan kembali seperti di Ambon, atau di Tanjung Balai yang memilukan.

Maka kehadiran IPNU yang mengusung misi kebangsaan, dan dakwah agama bagi para kaum pelajar, serta kaum pemuda sangat tepat. Mengingat kaum pelajar awam, dewasa ini banyak sekali di doktrin oleh ajaran radikalisme yang sangat berbahaya.



Namun sayangnya, saya lihat IPNU sebagai organisasi otonom belum bisa merekrut para pelajar untuk bergabung menjadi anggotanya. Hal ini dikarenakan Regulasi Kemendikbud yang hanya mengakui organisasi OSIS sebagai organisasi intra sekolah, serta Pramuka sebagai organisasi ekstra sekolah.

Inilah yang menyebapkan IPNU banyak tidak diketahui oleh para pelajar. Mereka tak mendapat sosialisasi apa itu sebetulnya IPNU. Kelemahan di tingkat grassroot IPNU pada ranah pengkaderan.

Perlu menjadi sorotan utama para pengurus IPNU untuk lebih giat lagi melakukan sosialisasi keorganisasian di sekolah-sekolah. Kalau saja demikian telah dilakukan, bukan tak mungkin akan banyak kita temui para pelajar yang pandai dalam memahami agama Islam, juga cinta akan pluralitas keindonesianan, dan pintar dengan ilmu-ilmu umum.

Karena sekali lagi bahwa IPNU sebagai organisasi berbasiskan Islam.  Tidak hanya mewadahi kadernya pandai beragama, tetapi nol-njendol terhadap wawasan ilmu-ilmu sosial dan alam.

Tidak ada pendikotomian ilmu dalam kerangka anggaran rumah tangga IPNU. Ilmu keperawatan dengan ilmu tafsir sama-sama akan menuju surga, jika kedua ilmu tersebut digunakan untuk membawa peradaban manusia menuju kemaslahatan umat manusia.



Tidaklah bijak mengatakan bahwa ilmu-ilmu umum itu sumber kekacauan umat Islam untuk menjadikanya cinta terhadap dunia. Karena dari penguasaan ilmu-ilmu umum seperti arsiteklah, maka masjid-masjid berdiri megah di seluruh dunia.

Maka sebaliknya jika ahli tafsir itu memelintir ayat-ayat ketuhanan untuk menyerang, atau mengkafir sesatkan umat agama lain. Maka bukan kemaslahatan umat yang didapat. Tapi menjadi sumber kekacauan dunia, serta menyulut peperangan yang pada akhirnya tiada henti.

Tantangan IPNU di tengah arus kids jaman now yang lebih suka pada kehidupan free seeks, mabuk-mabukan, tawuran antar pelajar, menggunakan sabu-sabu, intoleransi agama terhadap umat lain, serta cuek bebek terhadap kebudayaan bangsa menjadi PR bersama setiap kader IPNU dalam setiap gerak kegiatanya.

Maka demikian perlu dibuat kegiatan dialog antar agama yang dimotori oleh kader IPNU. Hal ini dimaksudkan supaya tumbuh moto bersama untuk mewujudkan perdamaian agama di Indonesia. Bicara soal nguri-nguri budaya, sebagaimana yang diinginkan KH. Wahid Hasyim. Bahwa Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang cinta budaya.

Maka langkah pergerakan IPNU harus selaras dengan pelestarian budaya-budaya yang baik, “Al-muhafazhatu ‘ala  qadimis-shalih. Wal akhdzu  bil-jadiidil-ashlah.” Bisa melalui pelatihan sanggar pewayangan, pelatihan membatik, maupun pelatihan menari tarian daerah. Dengan begitu, akan muncul kader IPNU yang terampil dalam memahami Islam, berkebudayaan, pintar berbagai disiplin keilmuwan, dan cinta akan kebangsaan.

Search terms:

logo ipnu ippnu, Logo IPNU ippnu png, Logo ipnu, logo ipnu dan ippnu, logo ipnu kualitas tinggi

Leave A Reply