Budaya Arab Saudi Mulai Ke Barat-Baratan, Ini Buktinya

0

Dalam beberapa dekade belakangan, Arab Saudi terjadi pembaratan luar biasa yang dipengaruhi oleh pemikiran Eropa dan kebudayaan Barat yang diwakili Amerika Serikat. Arab Saudi bukan lagi sebuah negara yang hanya ber pemandangan pasir saja yang menjemukan mata.

Melainkan Arab Saudi sudah menjelma, dan mengubah dirinya menjadi negara metropolitan yang begitu syarat kepentingan keduniawian. Arab Saudi juga memiliki jantung yang semakin mirip dengan semangat, dan kebudayaan masyarakat Barat.

Oleh karenanya, maka lazim kita temui wanita Arab Saudi yang kemana-mana sudah tak menggunakan hijab, atau dalam bahasa Arabnya abaya. Misalnya saja pada putra Raja Salman yang lebih memilih tak berhijab.


Tak hanya itu saja, indikator terjadinya pembaratan yang cukup masif di Arab Saudi dimulai dari dicabutnya aturan tentang larangan mengemudi sendirian bagi wanita. Aturan yang dianggap kalangan menindas kaum perempuan itu sudah lama diterapkan sejak tahun 80-an.

Sejumlah kalangan memang sudah lama mengkritik aturan yang merugikan itu. Dalam khasanah ilmu-ilmu sosial. Pembatasan terhadap perempuan yang tak boleh menyetir mobil, merupakan kejahatan gender yang bersifat misoginis.

Pembaratan di Arab Saudi juga sampai di ranah akademis. Sejumlah universitas paling beken di daratan Saudi Arabia seperti King Saud University, bahkan hanya mau menerima pelamar dosen yang lulusannya dari universitas ternama di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, maupun Jerman.

Diluar daripada lulusan non-Barat. Walaupun pelamar dosen mempunyai nilai tinggi, dan memiliki segudang prestasi, tetapi bukan lulusan dari universitas di negara-negara Barat.

Maka tak akan pernah bisa mengajar di universitas ternama di Arab Saudi. Hal ini dibenarkan oleh Prof. Sumanto Al-Qurtuby. Proffesor asal Batang, Jawa Tengah yang saat ini sedang mengajar ilmu Antropologi di King Saud University. Arab Saudi.

Melihat fenomena cukup menarik yang terjadi di Arab Saudi belakangan ini. Terutama atas kebijaknya yang mencoba membuka selebar-lebarnya arus modernisme.

Barangkali disebapkan karena cadangan minyak bumi yang dimiliki Arab Saudi sudah semakin menipis . Oleh karenanya, Arab Saudi mempunyai keinginan menggebu-nggebu untuk segera terbebas dari ketergantunganya terhadap industri minyak bumi. Mereka akan mencari sumber-sumber ekonomi baru, untuk mengurangi ketergantungan industri minyak bumi.


Rencana mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi ini, terkuak dengan pernyataan Muhammad bin Salman saat konferensi investasi di Riyadh yang akan lebih memfokuskan pada industri properti. Sang Pangeran kala itu tengah berencana akan mulai membangun kota raksasa dengan dana mencapai Rp 6.8000 triliun.

Proyek berdana super besar ini bernama NEOM. Beberapa pengamat geopolitik. Proyek Neom bisa dibilang, Meikarta nya Timur Tengah.

Pernyataan Putra Mahkota, Muhammad bin Salman begitu viral dibincangkan para Netizen di Tanah Air. Ada yang setuju karena hal itu merupakan sebuah langkah berkemajuan. Ada juga yang menolak, dengan alasan bertolak belakang dengan doktrin Islam yang tak suka akan bermewah-mewahan.

Jika ditarik garis kesimpulan, memang sah-sah saja jika ada orang yang tak setuju, atau setuju dengan rencana Putra Mahkota Raja Arab Saudi, yang akan membangun kota raksasa yang sangat mewah.

Setujunya, dengan pembangunan bisnis baru berupa properti maka pemasukan negara APBN Arab Saudi tidak hanya dari sektor minyak bumi saja. Tetapi ada alternatif lain yaitu didapat dari sektor hiburan, dan properti hasil daripada proyek raksasa ini.

Arab Saudi secara udang dibalik batu sebetulnya telah menyadarkan negara-negara Muslim di dunia bahwa jika Islam peradabanya ingin maju. Ya inilah saatnya melakukan modernisme di segala lini kehidupan.

Negara-negara Islam sudah lama tertinggal dari kebudayaan Barat. Maka untuk segera menandinginya, Arab Saudi perlu menyontek peradaban barat, lalu dikembangkan dan di terapkan ke dalam model pembangunan kota yang modern.

Tidak setujunya mungkin karena dengan arus modernisme yang luar biasa itu. Bisa saja membuat onta-onta padang pasir hilang entah kemana. Karena habitatnya telah hilang, digantikan beton-beton yang jauh dari kata nyaman. Jika demikian adanya, Arab Saudi sudah tak pantas lagi dijuluki Negeri Onta. Tapi negeri “Konta”. Kurang Onta.

Leave A Reply