Perguruan Tinggi Islam Semakin Berbudaya, Sebuah Kabar Baik ?

0

Ada fenomena yang cukup menarik, berkaitan dengan perkembangan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia belakangan ini. Perkembangan itu berupa cara pandang beragama yang semakin moderat, baik para civitas akademika, maupun lingkungan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Bagi teman-teman yang belum mudeng apa itu lembaga PTKIN. PTKIN itu gampangnya adalah suatu perguruan tinggi keislaman negeri yang berada dalam naungan Kementrian Agama. Jenis perguruan tinggi yang termasuk kedalam PTKIN yaitu Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri ( IAIN), dan STAIN ( Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri).

Lho kok banyak ? Iya memang banyak, PTKIN terdiri dari tiga jenis kelembagaan. Lingkup paling terkecil adalah STAIN, kemudian IAIN, dan yang paling besar UIN.



Semakin banyak kajian keilmuwan ilmu-ilmu sekuler pada PTKIN, seperti kedokteran, kesehatan, dan ilmu-ilmu lain. Maka proses transformasi dari lingkup terkecil seperti STAIN, bisa berubah ke UIN secara cepat. Salah satunya perubahan kelembagaan STAIN Malang menjadi UIN Malang yang bagi saya termasuk cepat, setelah UIN Malang membuka kajian ilmu-ilmu sekulernya.

Sebenarnya tidak hanya UIN Malang saja yang sepertinya ketularan vius gerakan sekulerisasi, tetapi hampir diseluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang berlomba-lomba membuka prodi umum (sekuler) tidak hanya prodi keagamaan saja (Islamic studies). Saya menyebut fenomena ini sebagai gerakan “ngeUinisasi”.

Jika diibaratkan dengan makanan, gerakan “ngeUinisasi” adalah gerakan empat sehat, lima sempurna. Maka diperlukan makanan berupa telor, susu, sayuran, lauk pauk,  dan nasi. Kelima bahan makanan ini bersifat “wajib ngain” jika badan Anda ingin tetap sehat, dan bergizi.

Demikian juga dengan PTKIN, harus membuka prodi-prodi umum, supaya bisa menghasilkan akademisi yang tidak sakit-sakitan jika berbicara kehidupan keduniawian. Lulusanya diharapkan tidak hanya pandai urusan agama, tapi juga pandai urusan keduniawian.



Cara pandang seperti ini kemudian yang membuat lembaga PTKIN di Indonesia menjadi moderat dalam beragama, istilah wong Yogya nya “ora kagetan.” Baik “ora kagetan” terhadap ilmu-ilmu umum, maupun “ora kagetan” terhadap berbagai macam diskursus teologi, bahkan beberapa PTKIN yang sudah menjadi UIN, seperti UIN Syarif Hidayatullah, tidak keberatan menerima mahasiswa Kristen untuk menimba ilmu di kampus ini.

Namun ada orang tertentu yang menyebut bahwa PTIN sudah ketularan virus liberal, setidaknya  Kivlah Zain pernah menyebut bahwa lembaga PTKIN merupakan gudangya orang liberal, dan akademisi kiri. Walaupun menurut saya tidaklah demikian. Mungkin tuduhan liberal yang biasa di stigmakan oleh UIN, IAIN, dan STAIN disebapkan oleh cara pandang Harun Nasution yang mengedepankan pemikiran “Islam Logis” dan “Islam Kontekstual.”

Tidak hanya itu saja, Harun Nasution juga merupakan salah satu tokoh dibelakang dari gerakan “NgeUinisasi” dan telaah baru, dalam menggagas metode tafsir secara hermenutika di seluruh PTKIN di Indonesia.

Memang pada tahun 80-an Perguruan Tinggi Islam Negeri cenderung hanya mengedepankan merawat  “ortodoksi keislaman”, namun cara pandang tersebut  berubah seiring dengan kesadaran para civitas akademika yang dikomandoi oleh tokoh-tokoh pembaharu Islam seperti Harun Nasution, dan Nurcholis Majid.



Bahwa peradaban Islam semakin tertinggal dengan Barat. Ketertinggalan itu disebapkan oleh dikotomi keilmuwan, yang seolah-olah beranggapan bahwa ilmu-ilmu sekuler hukumnya hanya “fardu kifayah” saja untuk dipelajari. Ada pemahaman yang berkembang ketika itu bahwa ilmu sekuler tidak menghantarkan seseorang menuju surga. Berbanding terbalik dengan ilmu-ilmu keislaman yang dianggap pasti menuju surga.

Padahal untuk membangun masjid maupun gereja misalnya. Perlu dibutuhkan orang-orang yang mengusai ilmu sekuler, ilmu sekuler tersebut berupa ilmu arsitektur.

Pertanyanya, apakah orang yang ahli ilmu-ilmu agama akan masuk surga, jika dia pandai ilmu tafsir, tapi ilmu tafsir yang ia gunakan untuk mensesatkan umat lain dan “mengelabuhi Tuhan” untuk kepentingan politik praktis diri sendiri, dan kelompoknya.

Pertanyaan ini barangkali akan membuat sebagian umat Muslim, “bengak-bengok” kepada saya. Terutama yang suka menebar teror kebencian beraroma sektarian.



Saat ini memang PTKIN begitu kompak melawan intoleransi agama beraroma sektarian, bahkan ke 55 PTKIN di Indonesia lewat Deklarasi Aceh sepakat bahwa akan setia kepada Empat Pilar Bangsa, dan menolak gerakan radikalisme agama. Melihat perkembangan PTKIN di Indonesia yang semakin terbuka terhadap berbagai macam keilmuwan dan macam-macam aliran Teologi. Saya sangat optimis PTKIN akan menjadi barometer kemajuan peradaban Indonesia. PTKIN juga akan menjadi ujung tombak dari pengintegrasian Ilmu Agama ,dan Ilmu Sekuler yang sudah lama bentrok sejak zaman renaissance.

Tapi sayangnya PTKIN harus siap dituduh agen sipilis, bukan penyakit kelamin loh ya. Tapi penyakit sekuler, liberalis, dan pluralis yang mutlak haram hukumnya. Yowesben lah, biarlah Via Vallen bernyanyi.

Baca Juga : Beton Instan Betomix Solusi Beton Berkualitas Praktis Ramah Lingkungan

Leave A Reply