Setya Novanto Bak Belut yang Dilumuri Oli

1

Bagaikan belut yang dilumuri oli, tidak sekedar licin lagi, tapi sudah ketaraf ekstra licin sampai tujuh belas turunan. Novanto bukanlah sekedar belut yang memiliki gen biasa, tapi ia adalah perpaduan antara gen belut dan bunglon, yang tidak hanya licin, tapi mampu berkamuflase.

Begitulah licinya Setya Novanto di genggaman tangan KPK, hingga ia susah sekali untuk ditangkap dan diadili dengan prosedur hukum yang berlaku. Novanto dinilai telah sukses menunjukkan drama hipokrisi. Terutama dalam memperlambat proses penyelidikan lewat drama plesiran keluar negeri, hingga sampai pura-pura nyium tiang listrik, eh.

Sementara KPK agak “kikuk”, dalam mengadili Novanto. Ada semacam pertarungan dua institusi yang terlibat sengit yaitu KPK vs DPR. Kekuatan “hunger strike” yang dimiliki oleh DPR dalam memainkan percaturan politik masalah E-KTP yang begitu domino, membuatnya seolah-olah kebal terhadap hukum.


Dengan pion-pionya yang siap menghantam intitusi KPK, menjadikan saya pesimistik, pemilik gelar “The Power of Papa” (begitulah saya menyebutnya) ini bisa diadili.

Terutama jika KPK tidak memiliki gen ular yang ganas, dan trengginas dalam memangsa bunglon. KPK perlu meniru filosofi ular piton, agar mampu membelit mangsanya hingga tak mungkin lolos. Setya Novanto kini sudah ditemukan dalam keadaan terbaring di rumah sakit Medika Permata Hijau, Jakarta. Dengan kondisi yang lemah seperti itu. KPK perlu bekerjasama kolaboratif dengan institusi Polri, dan Kemendagri agar sepakat mengeluarkan aturan larangan berobat keluar negeri.

Yakinlah bahwa rumah sakit di Indonesia tidak kalah top markotop dengan kualitas rumah sakit di Singapura. Lagian rumah sakit di Indonesia akan jauh lebih cepat proses penyembuhanya, karena lebih dekat dengan lokasi para penyidik KPK. Lho bukanya malah bikin nambah ketakutan si Novanto saja, kan kalau dirawat di Indonesia kaburnya jadi susah ?.


Iya memang bikin takut, tapi dari ketakutan itu si Novanto kan jadi lebih sering istighfar. Bukanya orang yang dalam keadaan sakit akan cepat sembuh, jika orang tersebut melakukan amalan wiridan, iya kan.

Perlu juga kita ketahui, bahwa pengacara Setya Novanto saat ini sedang melakukan interupsi, bahwa Setya Novanto tidak dapat dilakukan proses penyelidikan oleh KPK. Kalau saja interupsi itu disetujui, bisa jadi Novanto akan memanfaatkan situasi dengan memperlambat proses penyembuhan terhadap dirinya. Kalau sudah demikian hal-hal urgen yang harus segera diselidiki bisa menjadi bias. Terutama jika Novanto mempunyai banyak waktu untuk menghilangkan jejak keterlibatanya dalam dugaan korupsi E-KTP.

Untuk melawan korupsi memang perlu menggunakan strategi cantik. Karena para koruptor memiliki banyak cara cerdik yang bisa dapat memesonakan siapa saja.


Koruptor telah lama menggerogoti keelokan masyarakat Indonesia, sehingga sekarat, dan menimbulkan bopeng disana sini. Kebopengan itu tentu menimbulkan busung lapar bagi masyarakat kecil yang seharusnya dibiayai uang negara, tapi menjadi zonk karena uangnya di korupsi.

Maka sudah sepantasnya ada upaya serius, bahkan kalau perlu duarius untuk bersama-sama memberantas para koruptor. Tak peduli siapa yang melakukan koruptor, baik pejabat tinggi negara, atau hanya “kaum kampret” yang sekedar mengkorupsi uang recehan, semuanya harus diadili. Apalagi banyak kaum agamawan, nasionalis, liberalis, bahkan komunis satu suara untuk komit dalam memerangi korupsi.

Demikian juga dengan Setya Novanto, jika ia benar-benar terbukti terlibat korupsi pengadaan E-KTP. KPK juga harus berani menindaknya dengan hukuman yang equal. Jangan sampai KPK justru menggelari Setya Novanto sebagai pemenang ajang Grammy Awards, dengan nominasi The Best Ever Actor Award. Hanya karena drama politiknya mengelabuhi banyak orang.

Baca Juga : Mengenal Makanan Bakpao Yang Sedang Viral Belakangan Ini

1 Comment

Leave A Reply