Berwisata Kuliner di Pinggiran Kota Solo yang Bersejarah

0

Diantara kota Solo, dan Yogyakarta terdapat kota satelit yang sudah lama kita lupakan, Kartasura namanya, sebuah kota yang menjadi embrio lahirnya kota Solo dari perang berkecamuk antara dua kerajaan Mataram yang sedarah.

Kendati Kartasura memiliki sejarah yang cukup pilu, terutama pada awal zaman Mataram kuno. Kartasura tetaplah memancarkan sejuta pesona yang begitu menarik orang-orang untuk berdatangan, yaitu berupa wisata kuliner yang cukup enak.

Pertama adalah nasi liwet, nasi yang sudah familiar ini biasanya di jajakan pada saben dini hari, hingga sekitar jam sepuluh pagi. Penampakanya berupa kuah labu siyam yang disiramkan ke nasi gurih, serta ditambah toping berupa suwiran lembut ayam kampung. Bagi yang suka “kriyus-kriyus”, bisa minta menambah tulang kepada penjualnya.



Nasi liwet dihidangkan pada daun pisang Raja dengan cara di plincuk. Nasi liwet yang memiliki cita rasa maknyos ini lebih lengkap di dampingi dengan minuman “the nasgitel”, yang merupakan perpanjangan dari teh panas, legi (manis), dan kentel (kental). Sruput wuenak tenan.

Tidak terlalu sulit mencari penjual nasi liwet di pinggiran kota Solo ini. Cukup kamu datangi ke perempatan Solo yang mengarah ke Jogja, maka akan kamu dapati para penjual nasi liwet berjejeran berjualan di emperan toko.

Melihat para penjual nasi liwet berjualan di toko tersebut, saya jadi ingat pada peristiwa 98. Persis di perempatan Kartasura ini, asap ada dimana-mana memenuhi jalan kota, banyak pertokoan dibajak, dijarah dan sebagian lagi ditulisi “dudu tokone wong Cino” (bukan tokonya orang Cina) atau pribumi asli, tulisan ini digunakan untuk menandai agar pertokoan yang miliknya pribumi asli tidak dibakar atau menjadi objek kerusuhan.

Memang sedih jika ingat itu. Zaman sedang dililit kesulitan dimana-mana, makanpun bawaannya serba tak enak tidak seperti sekarang ini. Itu masa saat saya terpaksa makan dengan lauk pauk seadanya. Yaitu makan hanya pakai kecap dan cemilan karak (kerupuk) karena saking parahnya krisis.


Bangunan yang menjadi sasaran amukan masa ketika itu kini tidak menyeramkan seperti dulu, sedangkan pertokoan yang tidak di renovasi hanya sisa dua saja. Beberapa toko lain sudah dialihkan fungsinya sebagai swalayan. Bioskop yang dulunya ada tak jauh dari perempatan Kartasura pun sudah menjadi konter HP.

Masih di sepanjang perempatan Kartasura, menu lainya yang patut untuk dicoba adalah tengkleng atau familiar disebut soto. Tengkleng hanya dijual pagi hari. Penampakan tengkleng cukup beragam tergantung dengan jenis daging yang digunakan, kuahnya bening, dan terdapat daging berupa ayam, kikil, uritan, dan balungan.

Bagi yang sedang ingin melakukan “begituan” kepada pasangan, disediakan tengkleng berisi daging alat kelamin sapi. Konon katanya, daging tersebut memiliki daya guna untuk menambah vitalitas keperkasaan.

Sebagaimana soto pulau di pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur, yang dicari selain sotonya sendiri yaitu pendamping soto. Kamu bisa memilih sundukan telor puyuh, risoles, sate ayam, sate usus, serta jangan lupa kerupuk.



Untuk makan siang di Kartasura, menu favorit pelancong adalah bebek goreng. Jika sedang berada di pinggiran kota Solo, akan ada gambar bebek berjejer-jejer yang artinya Anda sedang masuk di kota Kartasura. Memang tidak ada yang begitu membedakan antara bebebek goreng Kartasura dengan bebek goreng lainya. Kecuali penggunaan sambel korek yang tidak hanya pedas tetapi terdapat rempah-rempah palawija yang cukup kuat.

Bebek goreng ini biasanya dimakan dengan lalapan daun singkong. Kegunaanya sebagai acar bawang pada kambing bakar, fungsinya untuk mengimbangi kadar kolestrol. Setelah menikmati kuliner bebek, jangan lupa hidangan penutup, agar seperti anaknya raja Yogya. Yaitu minuman Pisang Kopyor.

Hal menarik, bahan pembuatan es kopyor sebetulnya berasal dari buah kelapa yang “cacat”. Kopyor adalah daging kelapa yang hancur tidak karu-karuan, karena gagal menempel pada batok kelapa. Sehingga gagal menjadi kelapa muda. Dalam doktrin kejawen, ataupun Islam. Kita memang selalu diajarkan bahwa semua hal yang ada di dunia ini mempunyai manfaat, termasuk buah kelapa yang cacat ini.

Baca Juga : Praktisi SEO Indonesia – Hendri Gunawan

Leave A Reply