Oleh-Oleh Khas Indonesia yang Sebenarnya Tidak Khas

0

Dalam hal kebudayaan, masyarakat Indonesia pasti sudah familiar ditanya “oleh-olehnya mana ?”. Pertanyaan tiba-tiba itu akan kamu dapatkan manakala kamu telah selesai pergi dari tempat tinggalmu untuk waktu yang cukup lama, apalagi jelas-jelas kamu sedang pergi ke daerah wisata.

Ya kita begitu mafhum betul, di negara kita oleh-oleh begitu menjadi komoditi utama, dan sangatlah menggiurkan dalam bisnis kuliner serta, barang-barang yang didagangkan secara terbatas. Oleh-oleh seolah-olah tidak dapat dipisahkan dari konstruksi kebudayaan Indonesia hampir disemua daerah. Hal ini kemudian menjadi pemicu para pebisnis sukses dadakan, untuk mencoba-coba melebarkan sayap, terjun pada entitas oleh-oleh ini.

Sayangnya banyak para pembisnis baru terjebak pada sebuah gagap kultural yang bisa dibilang cukup “keblinger”, di tempat ia berbisnis. Mereka mengklaim bahwa barang dagangannya itu memenuhi entitas khas, padahal barang yang dijualnya itu pasaran, dan tidak menampakan suatu kekhasanya pada daerah tersebut.

Asal bisnisnya laku keras, tak masalahlah memikirkan pemetaan secara empiris, atau penelitian sejarah daerah tersebut secara mendalam. Asal jualanya yang di lebeli khas itu laku keras, sesuai atau tidaknya tak masalah, yang penting banyak pembeli yang suka.


Mental seperti ini sebetulnya bukan sebuah mental pebisnis yang menjadi “heroes”, atau pahlawan bagi pergerakan kemajuan daerahanya, tapi motivasi bisnis seperti ini cenderung tak mengakar secara kultural.

Memang sebetulnya, arti kekhasan telah bergeser jauh. Contohnya bisa kita lihat pada merebaknya barang dagangan seperti Jogja Scrummy, Malang Strudel, Cirebon Kelana, Surabaya Snowcake, dan segala macam produk lainya yang langsung melebeli, bahwa jualanya itu merupakan produk khas di daerahnya.

Sementara dinas Kebudayaan dan Pendidikan setempat, atau lembaga terkait tidak pernah mengakui bahwa produk-produk tersebut memang khas. Karena suatu makanan, atau entitas benda baru dapat dikatakan khas jika makanan tersebut tersedia hanya ada didaerahnya saja, dan tentu ukuran khas dilatar belakangi oleh pergumulan waktu yang sangat lama dan panjang.

Oleh-oleh khas bukanlah sebuah rekonstruksi dari unsur sosio-historis-kultural suatu daerah, namun sudahlah menjadi bagian menggiurkan dari komoditi bisnis yang tidak karu-karuan. Pemaknaan oleh-oleh khas kemudian terjadi kerancuan, dan bukanlagi menjadi identitas suatu daerah yang sifatnya mempunyai kesakralan.



Sementara seorang akademisi dan budayawan Prof. Sumanto Al-Qurtuby, berpendapat dalam salah satu tulisanya, bahwa apa yang disebut khas itu sebetulnya bersifat lokal-terbatas, sesuatu yang khas itu tidak mungkin dijual sembarangan secara meluas. Melainkan hanya di daerah tertentu saja.

Maka jangan heran timbul penafsiran bahwa oleh-oleh dari Jakarta itu uang, oleh-oleh dari Malang itu apel, oleh-oleh dari Tanggerang itu replika gedung pencakar langit, oleh-oleh dari Surakarta itu nasi liwet, oleh-oleh dari Pemalang itu kepiting, oleh-oleh dari Bandung itu sepatu, dan semua contoh lain yang sebetulnya bukan khas, karna oleh-oleh sangatlah abstrak, dan fana.

Bahkan untuk mengartikannya, kita harus dan perlu membuka kamus tebal ilmu antropologi, untuk sekedar mengetahui pemetaan barang yang dijual itu khas atau tidak.

Bicara sesuatu yang khas, hanya penyanyi Rita Sugiarto yang punya definisi khusus terkait dengan pemahaman oleh-oleh yang khas, setidaknya kita ketahui lewat salah satu lirik lagunya “Aku tidak minta oleh oleh emas permata dan juga uang. Tapi yang kuharap engkau pulang tetap  membawa kesetiaan.” Enak kan lirik lagu yang dibawakan oleh penyanyi Rita Sugiarto yang cantik itu, kalau enak yuk kita “ndangdut” dulu bersama-sama. Serr

Baca Juga : Praktisi SEO Indonesia – Hendri Gunawan

Leave A Reply