Alasan Klise Kenapa Banyak Orang Tidak Suka Jengkol

0

Jengkol memang memiliki cita rasa yang begitu sempurna memikat sejuta pesona mata untuk sekedar mencicipinya. Rasanya yang “krenyes-krenyes”, gurih serta legit untuk dimakan membuat sayuran yang sering dijuluki “buah kuldinya Indonesia” ini selalu cocok, walaupun disandingkan dengan beras kualitas terburuk apapun.

Anehnya, walaupun jengkol memiliki cita rasa yang Adi Luhung dan begitu menggelegar bagaikan Gunung Semeru, anehnya masih ada saja sebagian orang yang meremehkan kelezatan jengkol ini, bahkan dari beberapa teman-teman saya bisa disebut anti jengkol atas ketidak sukaanya itu. Mungkin jika ada wacana Hari Jengkol Sedunia, temanku itu bakalan menjadi orang pertama yang menolak wacana itu.

Melihat banyak orang yang tidak suka makan jengkol, timbul pertanyaan kritis, apa sih yang menjadi penyebap utama mereka begitu anti terhadap jengkol. Nah, saya akan paparkan penelitian menarik mengapa umumnya banyak orang-orang tidak mau makan jengkol, termasuk teman saya itu, barangkali penelitian ini bisa dijadikan Sarjana Perjengkolan untuk diolah datanya menjadi skripsi.


Kenapa Banyak Orang Tidak Suka Jengkol ?

Setelah beberapa minggu yang lalu saya begitu berdarah-darah melakukan penelitian empiris, juga keringat menjadi pucat dingin. Setidaknya sudah saya temukan empat penyebap utama mengapa, banyak orang yang begitu “aca-aca nehi, alias tidak sudi makan sayuran jengko. Berikut hasil penelitianya

Pertama, percaya atau tidak percaya, kemampuan rangsangan lidah manusia untuk memakan makanan dapat dibagi menjadi empat alasan pokok yaitu 20% dipengaruhi oleh cita rasa makanan, 20 % dipengaruhi oleh suasana, 12 dipengaruhi oleh keadaan perut, dan 48% sisanya dilatar belakangi oleh gengsi sosial, atau maindset. Selain lidah, gengsi sosial atau maindset menjadi peranan paling dominan seseorang akan mau memakan makanan. Banyak orang takut makan jengkol karna sudah terlanjut nempel diotak bahwa jengkol itu kampungan, norak, bau, dan segala cap buruk “tetek bengek” lainya, tetek kok bisa bengek sih. Inilah kemudian menjadikan semacam persepsi masal dimasyarakat bahwa, jengkol itu berkonotasi buruk yang tak boleh dimakan.


Kedua, makan jengkol akan mengakibatkan bau pesing ketika buang air kecil. Tidak hanya itu saja, bahkan niscaya jika kamu lagi ngomong di depan pacar setelah makan jengkol, bisa saja si doi langsung pingsan, mencium aroma semerbak mewangi jengkol tersebut. “

Padahal ketidak lucuan pada aroma jengkol seharusnya di maklumi, karena jengkol dan baunya yang khas itu memang sudah sepaket, bagaikan ikan yang pasti berbau amis. Betapa egoisnya, jika ada seseorang yang ingin merasakan nikmatnya masakan jengkol, tapi begitu nehi menolak bau khasnya.

Ketiga, karena lidahmu yang tak beres. Ini poin yang begitu krusial, terutama jika kamu mencoba makan jengkol di penyedia masakan jengkol yang super enak, serta pikiran dan maindsetmu terhadap jengkol. Tetapi setelah itu lidahmu menangkap sesuatu yang tidak enak pada jengkol, saya kira mungkin ada yang salah dengan lidahmu. Bisa jadi disebapkan karena keseringan makan makanan “ngeropa”, ataupun “ngamerika”. Sehingga kemungkinan lidah kamu tidak familiar dengan masakan lokal, seperti jengkol ini.

Untuk masalah yang terakhir, saya tak punya solusi jitu tentang masalah ini. Mungkin karena kemampuanmu saja kali yang memang tidak berbakat untuk menikmati kuliner jengkol, mungkin kamu baru berakar ngremus hamburger, atau “firza hut.” Nyam- nyam.

Baca Juga : Nyi Roro Kidul, Sebuah Mitos atau Fakta ?

Search terms:

alasan klise jengkol bukan rahasia

Leave A Reply