Nyi Roro Kidul, Sebuah Mitos atau Fakta ?

0

Ada sejumlah versi yang beredar di masyarakat dari mulut kemulut tentang sebenarnya siapa sosok Nyi Roro Kidul yang sering diperbincangkan banyak orang. Robert Wessing dalam “A Princess from Sunda: Some Aspects of Nyai Roro Kidul,” menyatakan bahwa Nyi Roro Kidul pada awalnya adalah seorang putri raja kerajaan Galuh.

Diceritakan, Ratu bernama Ayu dari kerajaan Galuh berhasil melahirkan bayi perempuan, namun sejumlah keanehan muncul tiba-tiba, bukanya bayi menangis atau hanya bisa sekedar ketawa-tiwi, tapi bayi dari ibu bernama Ratu Ayu ini langsung bisa berbicara “cap cip cus” dengan lancar. Bayi itu pula kemudian menyatakan dirinya sebagai lelembut penguasa Jawa, yang akan menetap di Pantai Selatan

Saat itu itu pula, roh Raja Sindhula dari Galuh pun “ndilalah” tiba-tiba muncul, dan memberikan pernyataan bahwa anaknya itu tak bisa dikawini, kecuali oleh para raja-raja Islam di Jawa.


Konon katanya, Ratu Pantai Selatan ini menjomblo hingga dua abad lamanya. Hingga disuatu saat salah seorang raja bernama Panembahan Senapati pergi ke Pantai Selatan untuk melakukan ritual semedi, dengan pengharapan dapat memenangkan peperangan melawan Sultan Pajang. Kemudian ia pergi ke Pantai Selatan untuk bersemedi memohon petunjuk untuk memenangkan peperangan melawan Sultan Pajang di Prambanan. Kekuatan semedi Panembahan Senapati membuat istana Nyi Roro Kidul porak-poranda.

Ratu Kidul pun kesal, dan mencoba keluar dari sarangnya. Setelah muncul di daratan, bukanya marah-marah, dia justru terbelalak dan jatuh hati kepada Panembahan Senopati. Karena keduanya terlibat asmara yang begitu syahdunya, keduanya kemudian bercinta tiga hari tiga malam.

Setelah aktivitas percintaanya selesai, Roro Kidul pun berjanji akan membantu memenangkan perang melawan Kerajaan Pajang. Usut punya usut, janji Roro Kidul terlaksana. Panembahan Senopati berhasil mengalahkan Raja Pajang tanpa perlawanan berarti.


Dilain pihak banyak kalangan sastrawan yang meragukan cerita Nyi Rorokidul, terutama sastrawan terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer berpendapat bahwa cerita Nyi Roro kidul itu hanya dongeng belaka.

Dalam pidato tertulisnya yang berjudul Sastra, Sensor dan Negara: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan? Pramoedya mengangap penciptaan dongeng Nyi Rorokidul hanyalah sebagai tak-tik menghilangkan “muka malu saja”, terutama bagi kemaluan muka Sultan Agung yang mengalami kekalahan ketika menyerang Hindia Belanda di Batavia.” Supaya ada kesan bahwa Mataram masih memiliki daya kuasanya, kerajaan Mataram kemudian menciptakan dongeng Nyi Roro Kidul, supaya ada kesan bahwa Mataram masih menguasai Pantai Selatan.

Pramoedya juga berpendapat bahwa larangan memakai baju hijau ketika sedang di Pantai Selatan sebetulnya alasan politik. Dimana larangan tersebut merupakan siasat dari kerajaan Mataram untuk menakuti tentara kolonial Hindia Belanda yang mengenakan baju hijau.

Kini ada wacana raja Yogyakarta akan digantikan menjadi seorang putri wanita. Dengan demikian kekuasaan yang biasanya di emban oleh putra mahkota ( laki-laki), akan digantikan oleh seorang putri mahkota. Pertanyaanya yang muncul adalah, apakah Nyi Roro kidul itu akan menikah dengan Raja Yogyakarta yang berkelamin wanita, atau hanya akan sekedar menjadi kerabatnya. Hanya rumput bergoyang yang dapat menjawabnya.

Leave A Reply